
Oleh : H.Pratondo, S.Pd., M.Pd.
Tidak semua orang yang berjasa dalam kehidupan harus dikenal banyak orang. Ada sosok yang tidak pernah berdiri di atas panggung, tidak memiliki jabatan tinggi, dan tidak menerima penghargaan atas pengabdiannya. Namun, kehadirannya begitu berarti bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Sosok itu adalah Soeminah. Bagi keluarganya, Soeminah bukan sekadar seorang ibu dan istri, melainkan perempuan sederhana yang menjalani kehidupan dengan kesabaran, ketekunan, kasih sayang, dan kepedulian. Kesederhanaan tersebut menjadi bagian yang melekat dalam perjalanan hidupnya.
Perjalanan hidup Soeminah mungkin tampak sederhana jika dilihat dari luar. Namun, di balik kesederhanaan itu terdapat perjuangan panjang yang memberikan pelajaran berharga bagi anak-anaknya.
Soeminah lahir di Kediri pada 31 Desember 1936, putri pasangan Marto Mardjan dan Murtinah. Ia merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. Sebagai bagian dari keluarga besar, Soeminah tumbuh dalam lingkungan yang sederhana dan menjunjung kebersamaan.
Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk kepribadiannya. Sejak kecil, ia belajar tentang kasih sayang, kepedulian, saling menghargai, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai kesulitan kehidupan. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan formal yang ditempuhnya adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak dimilikinya.
Namun, pendidikan tidak berhenti di bangku sekolah. Kehidupan menjadi sekolah panjang bagi Soeminah. Dari berbagai pengalaman yang dilaluinya, ia belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, ketekunan, pengorbanan, dan bagaimana menghadapi persoalan dengan keteguhan hati. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki kehidupan berkeluarga.
Soeminah kemudian menikah dengan Misringan. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai delapan orang anak.
Kedelapan anak tersebut adalah Edi Sumintarno, Dwi Widodo, Tri Yuswati, Winarno, Pramono, Pratondo, Sapto Prasojo, dan Windu Pribawanto.
Menjadi ibu dari delapan anak tentu bukan tanggung jawab yang ringan. Kebutuhan keluarga semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan anak-anak, terutama kebutuhan pangan, pakaian, rumah tangga, dan pendidikan.
Pada masa itu, suaminya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pangkat yang masih rendah. Karena itu, penghasilan keluarga harus dikelola dengan cermat agar berbagai kebutuhan dapat terpenuhi.
Dalam keadaan tersebut, Soeminah menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Ia berperan penting dalam mengatur kehidupan keluarga dan mendampingi pertumbuhan anak-anaknya.
Meskipun tidak memiliki penghasilan tetap, Soeminah berusaha mengelola kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Keterbatasan yang dihadapi tidak membuatnya berhenti memberikan perhatian dan dukungan kepada keluarganya.
Ketika keadaan sulit, kesabaran menjadi kekuatannya. Ketika kebutuhan keluarga semakin banyak, ketekunan menjadi pegangan. Ketika anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang menjadi jawabannya. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam cara Soeminah menjalani kehidupan keluarganya.
Perjuangan Soeminah bukan semata-mata tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, ia berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang memungkinkan anak-anaknya tumbuh, belajar, dan memperoleh pendidikan. Dari kehidupannya, tersirat sebuah pelajaran penting bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, Soeminah memiliki ikatan yang kuat dengan keluarganya. Kepeduliannya kepada saudara tidak berhenti ketika masing-masing telah menjalani kehidupan sendiri. Ia tetap berusaha menjaga hubungan dan memberikan perhatian kepada saudara-saudaranya.
Ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan, ia berusaha memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuannya. Pertolongan tersebut tidak selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa tenaga, waktu, perhatian, nasihat, atau sekadar menjadi tempat untuk berbagi cerita.
Bagi Soeminah, keluarga bukan sekadar hubungan darah. Keluarga adalah tempat untuk saling menguatkan. Sikap tersebut menjadi salah satu nilai kehidupan yang secara tidak langsung diwariskan kepada anak-anaknya. Mereka melihat sendiri bagaimana seorang ibu dapat memberikan perhatian kepada orang lain meskipun dirinya juga memiliki berbagai keterbatasan.
Dari situlah tumbuh sebuah pemahaman bahwa kehidupan akan menjadi lebih bermakna ketika seseorang tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga bersedia memberikan manfaat bagi orang lain.
Soeminah bukan sosok yang dikenal karena banyak memberikan nasihat panjang. Keteladanannya justru terlihat melalui tindakan sehari-hari. Kesabarannya menjadi pelajaran, ketekunannya menjadi contoh, pengorbanannya menjadi sumber motivasi, dan kasih sayangnya menjadi kekuatan bagi keluarga.
Dalam membesarkan delapan anak, Soeminah menghadapi berbagai keadaan yang tidak selalu mudah. Namun, ia berusaha menjalani setiap keadaan tersebut dengan penuh tanggung jaw
Bagi anak-anaknya, sosok seperti itulah yang kemudian menjadi motivator dalam perjalanan hidup. Motivasi tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata. Terkadang, seseorang justru menjadi motivator terbesar melalui cara ia menjalani kehidupannya. Soeminah menunjukkan hal tersebut.
Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada keterbatasan, persoalan, dan keadaan yang harus dihadapi. Namun, semua itu dapat dijalani dengan kesabaran, keteguhan hati, dan kemauan untuk terus berusaha.
Di balik perjalanan seorang anak, sering kali terdapat perjuangan orang tua yang tidak terlihat. Keberhasilan seorang anak tidak lahir begitu saja. Ada doa yang dipanjatkan, kebutuhan yang diprioritaskan, keinginan pribadi yang dikorbankan, serta waktu dan tenaga yang dicurahkan orang tua. Begitu pula dengan perjalanan delapan anak Soeminah.
Ia mungkin tidak meninggalkan kekayaan dalam jumlah besar. Ia juga tidak meninggalkan jabatan atau gelar akademik yang tinggi. Namun, ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: nilai kehidupan. Anak-anaknya belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, kasih sayang, kepedulian, dan pentingnya bertahan ketika menghadapi kesulitan.
Warisan seperti itu tidak mudah diukur dengan angka. Nilainya justru terlihat dari bagaimana nilai tersebut terus hidup dalam kehidupan generasi berikutnya.

Setelah menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu dengan berbagai perjuangan, Soeminah mengembuskan napas terakhir pada 1999 akibat serangan jantung. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, terutama bagi delapan anak yang telah dibesarkannya.
Namun, kepergian seseorang tidak selalu berarti berakhirnya pengaruh yang pernah diberikan. Ada sosok yang tubuhnya telah tiada, tetapi nilai kehidupannya tetap hidup dalam diri orang-orang yang ditinggalkannya. Soeminah adalah salah satunya.
Tahun-tahun terus berlalu. Waktu mengubah banyak hal. Anak-anaknya tumbuh dan menjalani kehidupan masing-masing. Namun, kenangan tentang seorang ibu yang sabar, sederhana, dan penuh perhatian tetap melekat. Kasih sayang yang pernah diberikan tidak hilang bersama kepergiannya.
Soeminah mungkin hanya dikenal sebagai seorang ibu rumah tangga sederhana. Ia tidak memiliki gelar akademik yang tinggi dan tidak pernah menduduki jabatan besar.
Namun, ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu terletak pada gelar, jabatan, atau kekayaan. Peran seseorang dalam keluarga juga dapat memberikan arti yang besar bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Sebagai ibu rumah tangga, Soeminah membesarkan delapan anak dalam berbagai keterbatasan. Ia mendampingi keluarganya, memperhatikan pendidikan anak-anaknya, dan tetap menunjukkan kepedulian kepada saudara-saudaranya. Peran tersebut menjadi bagian penting dari jejak kehidupannya.
Namanya mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Perjuangannya mungkin tidak pernah mendapatkan penghargaan atau piagam. Namun, namanya tertanam kuat dalam ingatan dan hati anak-anaknya.
Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukanlah harta benda, melainkan keteladanan. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang dimiliki seseorang. Hidup juga tentang bagaimana seseorang bertahan dalam keterbatasan, menyayangi keluarga, menghargai sesama, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Ketika anak-anaknya mengenang perjalanan hidup masing-masing, akan selalu ada bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sosok Soeminah.
Ia mungkin tidak selalu hadir dalam setiap langkah anak-anaknya. Namun, nilai-nilai yang ditanamkannya terus berjalan bersama mereka.
Kesabaran yang pernah dicontohkan menjadi bekal dalam menghadapi persoalan. Ketekunan menjadi dorongan untuk terus berusaha, sedangkan kepedulian menjadi pengingat agar tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Kasih sayang yang diberikan Soeminah juga menjadi dasar bagi anak-anaknya dalam membangun keluarga dan menjalin hubungan dengan orang lain. Karena itu, Soeminah bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan sosok yang nilai kehidupannya tetap hadir dalam perjalanan anak-anaknya.
Meski telah lama berpulang, semangat dan keteladanan Soeminah tetap hidup melalui orang-orang yang pernah merasakan kasih sayangnya. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa pengaruh seseorang tidak selalu ditentukan oleh kedudukan atau popularitas.
Seorang perempuan tidak harus memiliki panggung besar untuk memberikan pengaruh besar. Ia juga tidak harus memiliki jabatan untuk menjadi teladan atau dikenal banyak orang untuk meninggalkan jejak yang berarti.
Kadang-kadang, perjuangan terbesar justru berlangsung dalam ruang yang sederhana: di rumah, di tengah keluarga, dalam diam, tanpa sorotan, dan tanpa mengharapkan penghargaan. ( Editor : Tim PantauJatim )