SUMENEP, PantauJatim.com – Dunia pendidikan Kabupaten Sumenep kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jawa Timur. Dua figur pendidikan asal Kabupaten Sumenep berhasil meraih predikat Terbaik 1 dalam Program Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026.
Kedua penerima penghargaan tersebut adalah Siti Maryam, S.Pd., M.Pd., guru Kimia SMA Negeri 1 Masalembu, yang meraih predikat Terbaik 1 Guru Dedikatif, serta Samhadi, A.Ma., tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Sumenep, yang meraih predikat Terbaik 1 GTK Transformatif kategori Tenaga Kependidikan jenjang SMA/SMK/SLB.
Penghargaan tersebut diserahkan di Surabaya pada Rabu, 4 November 2026. Capaian ini menjadi bukti bahwa dedikasi, kualitas, dan inovasi insan pendidikan Kabupaten Sumenep mampu bersaing serta memperoleh pengakuan di tingkat provinsi.
Saat dikonfirmasi awak media mengenai keberhasilannya meraih predikat Terbaik 1 Guru Dedikatif Jawa Timur Tahun 2026, Siti Maryam mengungkapkan bahwa motivasi utamanya mengikuti program tersebut adalah keinginan untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi seorang guru untuk terus berinovasi dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan.
“Sebagai guru Kimia di wilayah kepulauan Masalembu, saya menyadari bahwa keterbatasan fasilitas laboratorium, akses internet, dan kondisi geografis tidak boleh menjadi alasan bagi peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran yang kurang bermakna,” ungkapnya.
Atas capaian tersebut, Siti Maryam mengaku bersyukur. Baginya, predikat Terbaik 1 bukan sekadar keberhasilan pribadi, melainkan juga bentuk apresiasi terhadap dukungan dan kerja sama seluruh keluarga besar SMA Negeri 1 Masalembu.
“Alhamdulillah, ketika akhirnya meraih Terbaik 1 Guru Dedikatif Provinsi Jawa Timur Tahun 2026, saya memaknainya bukan sebagai keberhasilan pribadi semata, melainkan sebagai apresiasi bagi seluruh keluarga besar SMAN 1 Masalembu dan bukti bahwa dari pulau kecil pun dapat lahir inovasi yang berdampak luas,” tuturnya.

Kebanggaan serupa juga dirasakan Samhadi, A.Ma., tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Sumenep. Ia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilannya meraih predikat Terbaik 1 GTK Transformatif kategori Tenaga Kependidikan jenjang SMA/SMK/SLB Provinsi Jawa Timur Tahun 2026.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan merasa bangga atas capaian ini. Penghargaan Terbaik 1 GTK Transformatif Tenaga Kependidikan tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 merupakan anugerah sekaligus amanah bagi saya untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memberikan pengabdian terbaik bagi dunia pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Samhadi menegaskan bahwa prestasi tersebut tidak terlepas dari kerja sama, dukungan, dan doa seluruh keluarga besar SMA Negeri 2 Sumenep, terutama kepala sekolah, rekan-rekan guru, tenaga kependidikan, serta berbagai pihak yang telah memberikan motivasi.
“Prestasi ini bukan semata-mata keberhasilan pribadi, melainkan hasil kerja sama, dukungan, dan doa dari keluarga besar SMA Negeri 2 Sumenep, khususnya kepala sekolah, rekan-rekan guru, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang telah memberikan motivasi,” tambahnya.

Kacabdin: Guru dan Tenaga Kependidikan Adalah Dua Sayap Pendidikan
Keberhasilan Siti Maryam dan Samhadi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Sumenep, Dr. Rusliy, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, prestasi dua figur pendidikan dari sekolah yang berbeda itu menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh peran penting tenaga kependidikan yang bekerja mendukung seluruh aktivitas sekolah.
Rusliy mengibaratkan guru dan tenaga kependidikan sebagai dua sayap burung yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus memiliki kekuatan dan kualitas yang seimbang agar sekolah mampu berkembang dan mencapai prestasi terbaik.
“Ada dua unsur di sekolah yang terkadang dianggap terpisah, yakni guru dan tenaga kependidikan yang bekerja di balik layar. Padahal, dalam praktiknya, mereka seperti dua sayap burung. Satu sayap saja tidak akan mampu membuat burung terbang,” ungkapnya.
Ia mengaku bangga karena pada tahun 2026, SMAN 1 Masalembu dan SMAN 2 Sumenep berhasil membuktikan bahwa kedua unsur tersebut sama-sama memiliki kualitas dan mampu meraih prestasi terbaik di tingkat provinsi.
“Yang membuat saya bangga, SMAN 1 Masalembu dan SMAN 2 Sumenep tahun ini membuktikan bahwa dua sayap itu sama-sama kuat. Kita memiliki guru yang hebat dan tenaga kependidikan yang hebat,” tegasnya.
Secara khusus, Rusliy memberikan apresiasi kepada Siti Maryam. Ia menilai guru Kimia asal Masalembu tersebut merupakan sosok istimewa yang mampu membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung ataupun sorotan publik.
Menurutnya, selama bertahun-tahun Siti Maryam telah menjalankan tugas pelayanan kepada peserta didik, guru, dan orang tua dengan penuh kesabaran, ketertiban administrasi, serta keikhlasan. Pengabdian itu dilakukan secara konsisten tanpa banyak mengeluh ataupun mencari perhatian.
“Bu Maryam ini istimewa karena beliau membuktikan bahwa pengabdian tidak membutuhkan panggung. Selama bertahun-tahun beliau melayani siswa, guru, dan orang tua dengan sabar, tertib administrasi, dan penuh keikhlasan. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah mencari sorotan. Justru dari kesunyian itulah, beliau terpilih menjadi Terbaik 1 se-Jawa Timur,” tuturnya.
Dari capaian tersebut, Rusliy menyampaikan pesan bahwa penghargaan dalam dunia pendidikan tidak hanya layak diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga kepada tenaga kependidikan yang menjalankan tugas pelayanan dengan tulus dan penuh tanggung jawab.
“Pesan saya dari prestasi Bu Maryam adalah, di Sumenep kita tidak hanya menghargai mereka yang pintar mengajar, tetapi juga mereka yang tulus melayani,” katanya.
Ia menambahkan, sekolah yang hebat tidak hanya dibangun oleh guru yang berkualitas, tetapi juga membutuhkan dukungan tenaga kependidikan yang dedikatif dan profesional dalam menjalankan tugasnya.
“Bu Maryam adalah bukti nyata bahwa dedikasi itu pada akhirnya akan menemukan panggungnya sendiri,” pungkasnya.
Strategi 4M, Langkah Cabdin Sumenep Mencetak Prestasi GTK
Selain memberikan apresiasi, Rusliy menjelaskan bahwa keberhasilan guru dan tenaga kependidikan Sumenep meraih prestasi di tingkat provinsi tidak terlepas dari strategi pembinaan yang diterapkan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sumenep. Strategi tersebut dikenal dengan sebutan Strategi 4M, yakni Memetakan, Mendampingi, Memfasilitasi, dan Merayakan.
Strategi pertama adalah Memetakan (Mapping Talents). Melalui langkah ini, Cabdin Sumenep tidak menunggu hingga ada perlombaan untuk mulai mencari peserta potensial. Sejak awal tahun ajaran, pihaknya telah memetakan guru dan tenaga kependidikan yang memiliki potensi berprestasi di setiap sekolah, termasuk sekolah-sekolah di wilayah kepulauan.
“Kami tidak menunggu ada lomba baru bergerak. Sejak awal tahun ajaran, kami sudah menetapkan siapa guru dan tenaga kependidikan yang punya potensi di setiap sekolah, termasuk di kepulauan. Kami punya database-nya. Bu Maryam itu bukan tiba-tiba muncul, beliau sudah lama kita pantau,” jelas Rusliy.
Strategi kedua adalah Mendampingi (Pendampingan Berjenjang). Cabdin Sumenep tidak membiarkan peserta berjuang sendiri dalam mengikuti kompetisi. Sebaliknya, peserta mendapatkan pendampingan dari tim yang melibatkan pengawas, sekolah-sekolah senior, serta alumni yang pernah meraih prestasi.
Pendampingan tersebut mencakup penyusunan portofolio, pembuatan video praktik baik, hingga latihan presentasi. Dengan demikian, peserta dapat mengikuti kompetisi melalui persiapan yang matang dan terarah.
“Kami melepas peserta lomba sendirian? Tidak. Kami buatkan tim pendamping yang melibatkan pengawas, sekolah senior, dan alumni yang pernah juara. Mereka dibimbing mulai dari penyusunan portofolio, pembuatan video praktik baik, sampai latihan presentasi. Jadi, mereka maju dengan persiapan, bukan dengan nekat,” paparnya.
Strategi ketiga adalah Memfasilitasi (Memberi Ruang dan Anggaran). Dalam pelaksanaannya, Cabdin Sumenep mendorong seluruh kepala sekolah agar memberikan kesempatan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensi serta menghasilkan berbagai inovasi.
Khusus bagi sekolah di wilayah kepulauan, dukungan diberikan melalui pendampingan secara daring agar keterbatasan jarak dan kondisi geografis tidak menjadi penghambat dalam mengikuti pembinaan maupun pengembangan kompetensi.
Sementara itu, strategi keempat adalah Merayakan (Reward dan Publikasi). Menurut Rusliy, prestasi guru dan tenaga kependidikan perlu mendapatkan penghargaan serta ruang publikasi agar menjadi inspirasi bagi warga pendidikan lainnya.
“Guru dan tenaga kependidikan yang berprestasi harus dirayakan. Jangan dibiarkan sepi. Makanya, kami rayakan melalui media, kami undang ke acara Cabdin, dan kami jadikan mentor. Karena itu adalah motivasi terbaik untuk yang lain,” ungkapnya.
Melalui penerapan Strategi 4M tersebut, Cabdin Sumenep telah menetapkan target yang lebih besar untuk tahun berikutnya. Jika pada 2026 berhasil mengantarkan satu orang meraih predikat Terbaik 1 tingkat Jawa Timur, pada 2027 pihaknya menargetkan sedikitnya tiga orang dari Kabupaten Sumenep masuk finalis tingkat provinsi dan satu orang mampu menembus prestasi tingkat nasional.
“Target kami jelas. Tahun ini satu orang Terbaik 1 di Jawa Timur. Tahun depan kami targetkan minimal tiga orang dari Sumenep yang masuk finalis provinsi dan satu orang tembus nasional,” tegasnya.
Rusliy optimistis, melalui pembinaan yang terencana, pendampingan berkelanjutan, serta dukungan seluruh satuan pendidikan, Kabupaten Sumenep dapat terus meningkatkan kualitas dan prestasi guru maupun tenaga kependidikan.
“Kami yakin dengan strategi ini Sumenep tidak akan lagi dikenal sebagai daerah pinggiran, tetapi sebagai lumbung prestasi GTK Jawa Timur,” pungkasnya.
Raihan dua predikat Terbaik 1 tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Sumenep. Lebih dari itu, keberhasilan Siti Maryam dan Samhadi memperlihatkan bahwa pengabdian, dedikasi, serta inovasi dalam dunia pendidikan tidak dibatasi oleh letak geografis maupun keterbatasan fasilitas.
Dari wilayah kepulauan Masalembu hingga daratan Sumenep, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa setiap insan pendidikan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan pendidikan. (Editor: Tim Tondo)