Peta tiga sesar aktif di Jawa Timur. Foto: dok BMKG/KilasJatim.com.
SURABAYA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan pemetaan tiga sumber gempa aktif di Jawa Timur setelah informasi patahan Surabaya–Madura ramai pada 8–9 September 2026. Tiga struktur itu adalah Sesar Java Back-arc Thrust Surabaya, Sesar Waru, dan Sesar Bangkalan. Data tersebut berasal dari pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen), bukan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi.
Fakta Kunci
- Tiga sumber gempa aktif yang dipetakan ialah Sesar Java Back-arc Thrust Surabaya, Sesar Waru, dan Sesar Bangkalan.
- Potensi magnitudo maksimum yang dicantumkan masing-masing M 6,5, M 6,5, dan M 6,7.
- BMKG menegaskan informasi ini bukan pengumuman gempa baru maupun ramalan waktu terjadinya gempa.
- Masyarakat diminta tetap tenang sambil memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi.
Peta Diperbarui, Bukan Sesar Baru Muncul
Plh Deputi Geofisika sekaligus Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena, seperti dikutip KilasJatim.com, menerangkan bahwa pemetaan sumber dan bahaya gempa tersebut telah diterbitkan PusGen pada 2024. Jalur yang dipetakan mencakup sesar di kawasan Surabaya, Pasuruan, hingga Bangkalan.

Rinciannya, Sesar Java Back-arc Thrust Surabaya dan Sesar Waru masing-masing dicantumkan memiliki potensi magnitudo maksimum M 6,5. Sesar Bangkalan dicantumkan memiliki potensi maksimum M 6,7. Besaran itu merupakan karakteristik potensi sumber gempa dalam peta bahaya, bukan kepastian magnitudo atau waktu sebuah kejadian.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III Cahyo Nugroho menjelaskan kepada detikJatim bahwa informasi yang beredar merupakan hasil pemutakhiran peta 2024. Karena itu, narasi tentang “sesar baru” perlu dibaca sebagai penambahan atau perincian data pada peta, bukan munculnya patahan secara tiba-tiba.
Mengapa Jumlah Sesar Bisa Bertambah?
Pembaruan pemetaan berlangsung ketika penelitian, pengamatan lapangan, dan analisis data menemukan struktur yang sebelumnya belum teridentifikasi secara rinci. Abdul Muhari dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagaimana dikutip detikJatim, menegaskan bahwa bertambahnya jumlah sesar pada peta merupakan hasil pembaruan data dan informasi.
Penjelasan itu penting agar masyarakat tidak menafsirkan peta bahaya sebagai prediksi gempa. Sains saat ini belum dapat menentukan secara pasti kapan gempa tektonik akan terjadi. Peta sumber gempa dipakai untuk mengenali ancaman, menyusun standar bangunan, merencanakan ruang, dan menyiapkan langkah penyelamatan.
Dampak bagi Warga dan Mitigasi
Bagi warga Surabaya, kawasan Waru, Bangkalan, dan wilayah sekitar, informasi ini menjadi alasan untuk meningkatkan kesiapsiagaan tanpa panik. Langkah sederhana mencakup mengenali tempat berlindung yang aman, mengikat perabot berat, memastikan jalur keluar tidak terhalang, menyiapkan tas darurat, dan mengikuti informasi resmi BMKG serta BNPB.
Pemerintah daerah dan pengelola fasilitas publik juga dapat memakai pemetaan tersebut untuk meninjau ketahanan bangunan, rute evakuasi, latihan kebencanaan, serta komunikasi risiko. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi dan memahami bahwa aktivitas sesar tidak dapat dipastikan waktunya.