Sumenep, PantauJatim.com — Enam santri Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an (PPTQ) Nurul Qosim, Prongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mengikuti prosesi wisuda tahfiz, Rabu (7/10/2026).
Keenam santri tersebut adalah Sirojul Munir, Moh. Sa’rani, Moh. Iqsirul Firdaus, Moh. Naufal Maulana, Alfin Zauqi, dan Moh. Alfarizi. Prosesi wisuda berlangsung lancar dan khidmat sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan para santri dalam menuntaskan hafalan Al-Qur’an.
Perjalanan menuju wisuda tersebut tidak terlepas dari proses pembelajaran dan karantina tahfiz yang dijalani para santri. Selama mengikuti program, mereka mendapatkan bimbingan secara intensif untuk memperkuat hafalan sekaligus membangun kedekatan dengan Al-Qur’an.
Pengasuh PPTQ Nurul Qosim, K. Kholiqul Fadhil, menyampaikan pesan kepada para santri agar tidak hanya menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai sebuah pencapaian, tetapi juga menjadikannya bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadikanlah Al-Qur’an teman hidup karena manusia tidak mampu mengubah Al-Qur’an. Namun, Al-Qur’an mampu mengubah dan menjaga akhlak manusia,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan menghafalkan Al-Qur’an bukanlah akhir dari sebuah proses. Setelah menyelesaikan hafalan, para santri memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga hafalan, memahami kandungannya, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
PPTQ Nurul Qosim memiliki dua program tahfiz, yakni program karantina dan program reguler. Kedua program tersebut dirancang untuk memberikan pilihan kepada santri sesuai dengan kemampuan dan target hafalan yang ingin dicapai.
“Program karantina merupakan program cepat menghafal Al-Qur’an yang ditempuh selama 7 bulan 15 hari. Sementara itu, program reguler ditempuh selama kurang lebih dua tahun,” jelas K. Kholiqul Fadhil.
Program karantina memberikan pendampingan secara lebih intensif dengan pola pembelajaran yang terfokus pada pencapaian target hafalan. Sementara itu, program reguler memberikan kesempatan kepada santri untuk menghafal Al-Qur’an secara bertahap di tengah kegiatan pendidikan dan pembelajaran lainnya.
Wisuda tahfiz enam santri tersebut menjadi momentum penting untuk mengapresiasi proses panjang yang telah mereka lalui. Lebih dari sekadar seremoni, wisuda diharapkan menjadi titik awal bagi para santri untuk terus menjaga hafalan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membentuk pribadi yang berakhlak.
Dengan demikian, perjalanan dari karantina menuju wisuda bukan sekadar tentang seberapa banyak ayat yang berhasil dihafalkan, tetapi juga tentang bagaimana hafalan tersebut mampu membentuk karakter, memperkuat akhlak, dan menghadirkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dalam kehidupan para santri. (Editor: Tim Tondo)